Negara Gagal Total Berantas Bandar, Malah Hantam Rakyat Kere Lewat Pembekuan Bansos: Apa Gunanya Kekuatan Siber dan Aparat Hukum?

- Penulis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA, Rambonews.id

21 Agustus 2016 — Kebijakan pemerintah yang membekukan Bantuan Sosial bagi warga yang terindikasi judi online menuai badai kritik tajam. Wakil Ketua Umum Ikatan Wartawan Online Indonesia, Ali Sofyan, menilai kebijakan ini sebagai wujud nyata keputusasaan penguasa serta potret penegakan hukum yang tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Di saat sindikat perjudian global dan bandar besar melenggang bebas tanpa tersentuh, negara justru memilih jalan pintas paling keji: memiskinkan dan membuat rakyat kecil semakin belangsak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebijakan diskriminatif ini memicu pertanyaan mendasar dari berbagai kalangan. Ali Sofyan menegaskan, negara macam apa yang membiarkan sarang kejahatan tumbuh subur, tetapi justru menghukum warga miskin yang terjebak di pusaran sistem yang bobrok?

Berdasarkan data dan aduan yang dihimpun, pemblokiran atau pembekuan bansos menyasar masyarakat kelas bawah yang notabene merupakan kelompok rentan secara ekonomi. Alih-alih merangkul, membina, memberikan edukasi, serta sanksi pembinaan yang mendidik untuk efek jera, negara justru memutus satu-satunya urat nadi dapur keluarga miskin tersebut.

Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai langkah ini sebagai bentuk menyalahkan korban. Banyak penerima bansos yang terindikasi ternyata bukan pelaku aktif, melainkan korban pencurian data atau penyalahgunaan rekening oleh oknum tak bertanggung jawab. Mengapa instrumen negara langsung menjatuhkan vonis mati ekonomi tanpa proses verifikasi yang adil dan manusiawi di tingkat bawah?

Ke mana perginya anggaran triliunan rupiah untuk pengamanan siber nasional? Kenapa ribuan situs judi online dengan mudahnya beroperasi di ruang publik digital Indonesia setiap hari tanpa bisa dicegah secara tuntas dari hulu?

Baca Juga:  Penggunaan Dana Desa 2026 Fokus Pemberdayaan dan Ketahanan Pangan Desa

Publik mempertanyakan efektivitas kerja institusi penegak hukum di seluruh jajaran kepolisian serta instansi teknis terkait. Ketika bandar, pemilik modal, dan pembuat platform judi online bebas beroperasi, negara seolah mandul dan kehilangan taring. Namun, begitu berhadapan dengan rakyat kecil, aparat mendadak tampil arogan dengan mencabut hak-hak dasar yang dijamin oleh konstitusi.

Secara esensial, fungsi utama negara kesejahteraan adalah melindungi dan mensejahterakan rakyatnya, bukan justru menambah penderitaan di tengah himpitan krisis ekonomi.

Konsentrasi penuh negara seharusnya dikerahkan untuk membasmi tuntas situs judi online, menangkap aktor intelektual, dan menyita aset bandar judi tanpa kompromi.

Jika ada warga yang terindikasi di tingkat bawah, perlakukan mereka dengan pendekatan pembinaan sosial, edukasi hukum, dan peringatan keras untuk memberikan efek jera, bukan memotong hak hidup mereka lewat pembekuan bansos.

Publik mendesak agar pemegang kewenangan mengevaluasi total kebijakan yang salah alamat ini sebelum memicu kemarahan sosial yang lebih luas.

Negara tidak boleh kalah, impoten, atau pura-pura buta terhadap gurita kejahatan siber. Jika pemerintah terus-menerus memilih menindas rakyat kecil demi menutupi kegagalan mereka memberantas bandar besar, maka legitimasi moral kekuasaan patut dipertanyakan.

Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak pemerintah, Kementerian Sosial, Polri, maupun instansi terkait untuk memberikan hak jawab, koreksi, atau klarifikasi resmi sesuai dengan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

 

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rambonews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Krisis Kepercayaan di Polres Kebumen, Aliansi Masyarakat Kebumen Bersatu Pilih Lapor Langsung ke Tujuh Lembaga Pusat di Jakarta
Dukung Bersih-Bersih Institusi, AMPP Desak Polri Pertahankan PTDH dan Pidanakan Kompol DK
ALI SOPYAN WAKIL KETUA UMUM IWO INDONESIA TANTANG REDAKSI MEDIA ISTANA NEGARA GAYA PREMAN
Bermodal Omong Kosong, Oknum Pimred Berlagak Paham Aturan Ternyata Buta Hukum
Eric Vr: “Menolong Publik di Era Digital Adalah Menyajikan Kebenaran, Bukan Sensasi Clickbait
Kritis atau Panik? Menelanjangi Kebodohan Jurnalistik Oknum Wartawan Humas Bayangan
Menilik Skandal Keimigrasian: Dugaan Manipulasi Transaksi dan Peran Rekening Nominee dalam Aliran Dana Ratusan Miliar
PRESTASI 20 BULAN PRABOWO MENJABAT: 2.000 LEBIH KORUPTOR DIJERAT, 10 LEBIH OTT KEPALA DAERAH, DAN RP31,3 TRILIUN UANG NEGARA DISELAMATKAN
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Negara Gagal Total Berantas Bandar, Malah Hantam Rakyat Kere Lewat Pembekuan Bansos: Apa Gunanya Kekuatan Siber dan Aparat Hukum?

Senin, 17 Agustus 2026 - 08:44 WIB

Krisis Kepercayaan di Polres Kebumen, Aliansi Masyarakat Kebumen Bersatu Pilih Lapor Langsung ke Tujuh Lembaga Pusat di Jakarta

Kamis, 30 Juli 2026 - 04:39 WIB

Dukung Bersih-Bersih Institusi, AMPP Desak Polri Pertahankan PTDH dan Pidanakan Kompol DK

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:33 WIB

ALI SOPYAN WAKIL KETUA UMUM IWO INDONESIA TANTANG REDAKSI MEDIA ISTANA NEGARA GAYA PREMAN

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:33 WIB

Bermodal Omong Kosong, Oknum Pimred Berlagak Paham Aturan Ternyata Buta Hukum

Berita Terbaru