Penundaan Aksi Tak Redam Tuntutan: Warga Muba Butuh Perbaikan Jalan Menyeluruh
Rambonews.id||Palembang
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rencana aksi demonstrasi terkait persoalan infrastruktur di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengalami penyesuaian jadwal.
Aksi yang semula akan digelar pada Senin (30/3/2026) di depan Kantor Bupati Muba resmi ditunda dan dijadwalkan ulang pada Selasa (31/3/2026).
Penundaan ini bukan tanpa alasan. Aparat kepolisian melalui jajaran Polres Musi Banyuasin meminta pengalihan waktu pelaksanaan aksi lantaran tengah memprioritaskan pengamanan arus mudik dan arus balik Lebaran, khususnya di jalur vital Jalur Lintas Timur Sumatera (Jalintim) yang menjadi urat nadi mobilitas antar provinsi.
Kondisi di lapangan disebut masih padat dan berisiko tinggi jika aksi tetap dipaksakan berlangsung sesuai jadwal awal.
Kepadatan terpantau di sejumlah titik krusial, mulai dari ruas Betung–Sungai Lilin hingga Bayung Lencir yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi.
“Kami tidak melarang aksi, namun meminta penjadwalan ulang karena kondisi di lapangan masih padat dan berisiko,” ujar Agus dari Intelkam Polres Muba saat dikonfirmasi koordinator Aksi.
Di sisi lain, penundaan tersebut tidak menyurutkan semangat koalisi massa yang terdiri dari LSM, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, hingga insan pers.
Mereka menegaskan bahwa substansi tuntutan tetap tidak berubah: mendesak adanya perbaikan menyeluruh terhadap infrastruktur jalan nasional yang selama ini dinilai hanya ditangani secara tambal sulam.
Koordinator aksi, Lekat Gunzali, menegaskan bahwa kondisi jalan rusak yang memicu kemacetan berulang di Jalintim bukan lagi persoalan baru, melainkan problem kronis yang dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.
“Masalah di lapangan nyata dan dirasakan langsung masyarakat. Perbaikan menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Desakan ini bukan tanpa dasar. Jalintim sebagai jalur strategis nasional selama ini kerap menjadi sorotan akibat kerusakan jalan yang berulang, terutama saat intensitas angkutan logistik meningkat.
Situasi ini diperparah oleh minimnya penanganan permanen, sehingga kerusakan cepat kembali terjadi meski telah dilakukan perbaikan sementara.
Pihak kepolisian sendiri memastikan akan tetap memberikan pengamanan maksimal saat aksi berlangsung sesuai jadwal baru.
Pendekatan persuasif dan pengamanan humanis disebut akan dikedepankan guna menjaga ketertiban sekaligus menjamin keselamatan seluruh pihak.
Sementara itu, perhatian publik tidak hanya tertuju pada persoalan jalan.
Insiden putusnya Jembatan Lalan yang diduga akibat aktivitas tongkang batu bara turut memperkuat urgensi pembenahan infrastruktur secara menyeluruh di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah pun didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton. Koordinasi lintas sektor, khususnya dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Selatan (BBPJN Sumsel), dinilai menjadi langkah krusial untuk menjawab keresahan masyarakat yang kian menguat.
Dengan penjadwalan ulang ini, publik kini menanti: apakah suara masyarakat akan benar-benar didengar, atau kembali terjebak dalam siklus lama, janji perbaikan tanpa realisasi yang berarti.
Penulis : Harto Pewarta
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Warga Muba Butuh Perbaikan Jalan Menyeluruh













