Fenomena “Operasi Kodok” Yang Kini Semakin Gencar Digulirkan Melalui Media Sosial Berbasis Internet

- Penulis

Rabu, 22 April 2026 - 05:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jacob Ereste :

Fenomena “Operasi Kodok” Yang Kini Semakin Gencar  Digulirkan Melalui Media Sosial Berbasis Internet

Rambonews.id||Jakarta 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Fenomena bertambahnya jumlah buzzer sebagai pembuat gaduh dalam media sosial, dalam kesimpulan Atlantika Institut Nusantara menjadi obyek pengamatan tersendiri yang menarik.

Pertama  jumlahnya yang cukup fantastis diturunkan kelapangan untuk membuat kegaduhan dan kekisruhan, secara sengaja atau tidak sengaja membuat konsentrasi Pemerintah yang dipimpin Prabowo Subianto terganggu, atau bahkan hilang konsentrasi untuk melaksanakan programnya yang pro rakyat.

Memang teknis pelaksanaan sejumlah program peneruntah untuk memberdayakan rakyat, mengatasi kemiskinan dan memberantas kebodohan melalui Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis, Nasionakisasi Aset, hingga  memberantas korupsi di negeri kita tampak terganggu, sehingga upaya pembenahan dan perbaikan agar teknis pelaksanaannya yang timpang hingga tak maksimal mencapai sasaran mengalami hambatan yang cukup signifikan.

Fenomena dari pertambahan jumlah buzzer yang bisa menyesatkan banyak pihak — utamanya rakyat kebanyakan — memang merupakan ancaman terhadap stabilitas dan upaya membangun rakyat agar bisa  lebih sehat dan cerdas dalam pengertian lahir maupun bathin.

Hingga pada akhirnya dapat mewujudkan kemajuan bangsa dan negara Indonesia dalam semua segi kehidupan menuju tata peradaban baru yang lebih baik dan lebih ideal bagi kehidupan manusia pada masa depan.

Munculnya sejumlah buzzer baru sejak dua pekan terakhir memang menunjukkan sejumlah orang mendapat pekerjaan baru — meski negatif karena ingin menciptakan kegaduhan serta kekisruhan, agar perhatian rakyat menjadi lengah, atau setidaknya beralih dari masalah yang paling serius untuk dicermati agar dapat segera diperbaiki atau bahkan diatasi secara hukum, seperti banyaknya berbagai kasus dan masalah yang  mengendap atau bahkan hilang dari peredaran untuk diselesaikan.

Tampaknya dari fenomena serupa inilah yang dimaksud “Operasi Kodok”  yang punya tabiat melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, lalu bersuara ngorok sekedar bunyi untuk mencari perhatian guna mengalihkan konsentrasi pengamatan banyak orang untuk dihadapi dan disikapi agar tidak sampai menimbulkan dampak terusan yang merugikan orang lain.

JadiOperasi Kodok” yang kuat menunjukkan dalam sikap saling lapor kepada pihak Kepolisian ini pun terkesan wajar untuk dicurigai juga dilakukan oleh aparat penegak hukum sendiri guna mengatrol pencitraan dari instansinya yang ambruk karena ulah dari personil mereka sendiri yang kacau untuk menunaikan tugas dan fungsinya yang mulia untuk rakyat.

Baca Juga:  KAB.BEKASI TERKORUP MENYALA KORUPTOR RAJAWALI MENGUDARA

Maraknya pertambahan jumlah buzzer dalam media sosial, tidak sekedar menunjukkan bahwa media yang berbasis Internet ini telah menjadi pilihan ideal yang efektif dan efisien untuk membangun opini dan kepercayaan masyarakat yang disesatkan sehingga jadi terkena pada beban hidup yang semakin menghimpit dan lalai untuk mencermati masalah yang paling urgen untuk disikapi dan ikut memberi jalan keluar, atau setidaknya memberi kritik dan saran, seperti terhadap proses hukum yang mangkrak, baik pada tingkat penyidikan dan penyelidikan hingga proses hukum berikutnya yang terkesan dijadikan barang mainan.

Operasi Kodok” yang  ditengarai Sri Eko Sriyanto Galgendu berdasarkan “Telik Santi” sebagai bagian dari kemampuan dan kecerdasan spiritual kini sedang digulirkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membentuk peta baru dalam perspektif geopolitik nasional yang diproyeksikan untuk tahun 2029.

KarenaOperasi Kodok” akan menyasar berbagai pihak dalam upaya memperoleh tempat dan posisi strategis guna merebut opini publik yang cukup terbuka peluang melalui media sosial — apa saja bentuk dan tampilannya — untuk menggiring dan merebut suara publik yang akan ikut menentukan semua hasrat yang diinginkan dengan legitimasi publik yang dianggap sah.

Karena itu, sasaran “Operasi Kodok” bisa menjadikan korban bagi siapa saja yang lengah dan tidak waspada.

Mulai dari serangan yang paling halus dan santin sampai model bar-barian yang terlepas dari etika, moral dan akhlak mulia yang harus tetap terjaga dan dijaga.

Dalam kontek inilah kesadaran, kemapuan dan ketangguhan pertahanan spiritual menjadi semakin penting dan relevan untuk dimiliki dan terus dikembangkan oleh setiap warga bangsa yang tidak ingin menjadi tumbal dan mangsa dari sejarah yang tengah direkayasa untuk mendapatkan pembenaran.

Fenomena dariOperasi Kodok” yang bisa bermain di dua alam sungguh memiliki bisa beracun yang sangat berbagaya.

KiniOperasi Kodok” dari produk yang tercanggih bisa terlihat dengan jelas tampilannya dalam media sosial berbasis internet yang dioperasikan oleh ratusan operator  untuk melumpuhkan akal sehat yang tidak dibentengi oleh spiritual yang tangguh dan teruji.

 

 

 

 

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Jacob Ereste :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rambonews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPR Dan POLRI Diminta Usut Tuntas Kasus Dugaan Rekayasa Hukum Rahmadi
Jaringan Bandar Sabu ‘Hu alias Sen’ Beraksi Terang-terangan di Tanjung Morawa, Kepekaan Aparat Penegak Hukum Dipertanyakan
Tetap Panen Di Lahan Negara, Masyarakat Sesalkan Sikap PT Barapala
Para Kabag/Kasubbag Melakukan Pengumpulan Uang Bayar Hutang Ke Sekretaris DPRD Sumsel Supaya Tidak Masuk Penjara
Skandal Nasi Berbelatung Viral Jadi Isu Nasional, Pengelola SPPG Akhirnya Minta Maaf di SDN 016 Kusau Makmur
Rp 58 MELYAR ANGGARAN PENDIDIKAN KEBUMEN DIDUGA AJANG BANCAKAN OKNUM PEJABAT BANGSAT
Bikin Takjub, Kantor Desa Karang Mukti Tampil Layaknya Istana Negara
Klarifikasi Kades Citalang, BUMDES,terkait Dugaan Sewa Lahan Pribadi
Berita ini 0 kali dibaca
Jacob Ereste : Fenomena "Operasi Kodok" Yang Kini Semakin Gencar Digulirkan Melalui Media Sosial Berbasis Internet

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 04:06 WIB

DPR Dan POLRI Diminta Usut Tuntas Kasus Dugaan Rekayasa Hukum Rahmadi

Kamis, 23 April 2026 - 01:28 WIB

Jaringan Bandar Sabu ‘Hu alias Sen’ Beraksi Terang-terangan di Tanjung Morawa, Kepekaan Aparat Penegak Hukum Dipertanyakan

Rabu, 22 April 2026 - 23:37 WIB

Tetap Panen Di Lahan Negara, Masyarakat Sesalkan Sikap PT Barapala

Rabu, 22 April 2026 - 13:16 WIB

Para Kabag/Kasubbag Melakukan Pengumpulan Uang Bayar Hutang Ke Sekretaris DPRD Sumsel Supaya Tidak Masuk Penjara

Rabu, 22 April 2026 - 06:12 WIB

Skandal Nasi Berbelatung Viral Jadi Isu Nasional, Pengelola SPPG Akhirnya Minta Maaf di SDN 016 Kusau Makmur

Berita Terbaru