GARONG BANGSAT DIDUGA ANGGARAN DPA KABUPATEN BEKASI 2025 : Terkesan Tertutup

- Penulis

Minggu, 7 Desember 2025 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GARONG BANGSAT DIDUGA ANGGARAN DPA KABUPATEN BEKASI 2025 : Terkesan Tertutup

Rambonews.id||Bekasi 

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ali Sofian mengatakan “Rajawali news turut ambil bagian dalam pemberantasan korupsi, seperti halnya temuan BPK RI Perwakilan Jawa Barat.”disparitas ekstrim dalam alokasi anggaran dan rasio belanja yang tidak seimbang.

Badan Daerah Anggaran Total (A) Belanja Operasi (BO) Belanja Modal (BM)

BPKD (Keuangan) Rp1.131 T N/A N/A 

BPBD (Bencana) Rp21.2 M 91.85% dari A 8.15% dari A

Bapenda (Pendapatan) Rp193.2 M 96% dari A 4% dari A 

Mengapa pos anggaran BPKD, sebagai entitas administratif, mencapai lebih dari Rp1,1 Triliun, yang hampir enam kali lipat dari gabungan empat Badan lainnya? Seberapa besar porsi riil Belanja Pegawai dan Barang/Jasa internal BPKD, dan seberapa besar dana pass-through (Belanja Transfer/BTT) yang seharusnya dialokasikan di pos yang lebih spesifik agar transparan?

Mengapa lembaga yang bertugas menjaga keselamatan nyawa dan aset daerah dari bencana (banjir, dll.) hanya mengalokasikan 8,15% dari total anggarannya (hanya Rp1,73 Miliar) untuk Belanja Modal (pembelian alat berat, perahu karet baru, sistem peringatan dini, dan infrastruktur kesiapsiagaan)?

Prioritas anggaran yang mementingkan rutinitas operasional (gaji dan rapat) di atas fungsi inti pelayanan publik dan investasi jangka panjang.

Apakah belanja modal sebesar Rp1,73 Miliar cukup untuk menjamin Kabupaten Bekasi mampu menghadapi potensi bencana besar di sepanjang tahun 2025? Rasio Belanja Operasi yang mencapai 91,85% menimbulkan kecurigaan bahwa anggaran hanya berputar pada gaji, perjalanan dinas, dan administrasi perkantoran, sementara kesiapan peralatan vital dan mitigasi bencana diabaikan.

Ini adalah Trade-off antara kenyamanan birokrasi dan keselamatan publik.

Jika 96% anggaran Bapenda (Rp185,5 Miliar) dihabiskan untuk Belanja Operasi, apakah dana ini efektif meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)?

Apa kontribusi riil dari Belanja Operasi yang sangat besar ini dalam upaya penemuan dan penggalian potensi pajak dan retribusi baru, yang merupakan fungsi utama Bapenda?

Pemanfaatan anggaran yang lebih condong ke internal birokrasi daripada ke masyarakat.

Siapa pihak di internal birokrasi yang paling diuntungkan dari dominasi Belanja Operasi (terutama Belanja Barang dan Jasa)? Apakah ini mencerminkan peningkatan jumlah perjalanan dinas, honor kegiatan, atau pengadaan barang habis pakai, yang nilainya sering kali sulit diawasi?

Baca Juga:  KMP SAMPAIKAN DUGAAN KORUPSI DBHP PURWAKARTA KEPADA PRESIDEN

Masyarakat adalah pihak yang paling dirugikan. Ketika terjadi bencana besar (banjir, kekeringan), masyarakat akan menanggung akibat lambatnya respon BPBD karena keterbatasan dan usia alat.

Kegagalan Bapenda mengoptimalkan PAD juga merugikan masyarakat karena berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur dasar.

Kurangnya transparansi dan detail dalam alokasi dana yang besar.

Di mana rincian alokasi Belanja Transfer (bantuan keuangan ke desa/partai) dan Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dikelola oleh BPKD? Tanpa rincian yang jelas, alokasi Rp1,1 Triliun ini menjadi “kotak hitam” yang rentan terhadap penyalahgunaan atau inefisiensi karena tidak dipisahkan dari Belanja Rutin BPKD itu sendiri.

Di sub-kegiatan mana saja di Bapenda dan BPBD Belanja Operasi ini dihabiskan? Apakah mayoritas dana tersebut terkonsentrasi pada event organizer untuk sosialisasi atau survei lapangan yang kurang terukur hasilnya?

Perlu ada jadwal audit kinerja yang ketat dan spesifik.

Kapan DPRD dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan melakukan audit kinerja terhadap rasio Belanja Modal BPBD? Apakah ada mekanisme untuk meninjau ulang alokasi ini di APBD Perubahan 2025 jika kinerja pencegahan bencana dinilai buruk pada triwulan pertama?

Operasi Bapenda sebesar Rp185,5 Miliar akan dipublikasikan, dan sanksi apa yang akan diberikan jika target peningkatan PAD 2025 tidak tercapai?

Aksi nyata yang harus dituntut dari Pemerintah Daerah.

Mendesak Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mempublikasikan Rincian Komponen Terbesar dari anggaran BPKD (pos Transfer dan BTT) agar dapat dipisahkan dari biaya operasional internal BPKD yang sebenarnya.

Menuntut DPRD Kabupaten Bekasi untuk memastikan adanya re-alokasi dana dari Belanja Operasi ke Belanja Modal BPBD dalam APBD Perubahan 2025. Anggaran untuk kesiapsiagaan bencana harus menjadi prioritas investasi.

Mendesak Bapenda untuk menyajikan Laporan Kinerja (LAKIP) yang terperinci tentang bagaimana Belanja Operasi Rp185,5 Miliar berkorelasi langsung dengan capaian target pajak baru dan peningkatan kepatuhan wajib pajak.

 

 

 

Penulis : Prima

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Tim Redaksi PRIMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel rambonews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tokoh Masyarakat Cigelam Apresiasi Kinerja Kades”* Desa Cigelam Kab.Purwakarta*
GEROMBOLAN PEJABAT PEMKAB BOGOR 93 X RAPAT PERTEMUAN MENELAN ANGGARAN Rp 4.483.935.936.00
Bappenda Belum Optimal Dalam Penagihan Piutang PBB-P2 Kota Cimahi
Dana BUMDES Citalang diduga Meraup Keuntungan Pribadi Kades dan Ketua BUMDES Masih Ikatan Keluarga
Sidak KDM Ke SMKN 2 Subang, Perintahkan Staf Kirim 15 Tempat Sampah Ukuran Besar
Perjalanan Dinas Dalam Negeri Kab, Bekasi di Dua SKPD,Diduga Merauk Keuntungan Pribadi Tanpa Ada Bukti Kwitansi/Nota
Ada Apa dengan Kejari Subang? Alihkan Aduan Korupsi ke Polisi, Publik Endus Aroma Tebang Pilih
Dana DBHCHT 2025 Kab, Purwakarta Diduga Raib Tanpa Kejelasan
Berita ini 17 kali dibaca
GARONG BANGSAT DIDUGA ANGGARAN DPA KABUPATEN BEKASI 2025 : Terkesan Tertutup

Berita Terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 22:50 WIB

GEROMBOLAN PEJABAT PEMKAB BOGOR 93 X RAPAT PERTEMUAN MENELAN ANGGARAN Rp 4.483.935.936.00

Jumat, 10 April 2026 - 10:37 WIB

Bappenda Belum Optimal Dalam Penagihan Piutang PBB-P2 Kota Cimahi

Kamis, 9 April 2026 - 06:14 WIB

Dana BUMDES Citalang diduga Meraup Keuntungan Pribadi Kades dan Ketua BUMDES Masih Ikatan Keluarga

Selasa, 7 April 2026 - 13:50 WIB

Sidak KDM Ke SMKN 2 Subang, Perintahkan Staf Kirim 15 Tempat Sampah Ukuran Besar

Minggu, 5 April 2026 - 05:22 WIB

Perjalanan Dinas Dalam Negeri Kab, Bekasi di Dua SKPD,Diduga Merauk Keuntungan Pribadi Tanpa Ada Bukti Kwitansi/Nota

Berita Terbaru